Untuk keluarga, sejarawan, dan veteran, penemuan bangkai pesawat Perang Dunia II yang hilang telah jadi salah satu berita sejarah paling kuat di akhir 2025. Setelah 82 tahun menjadi misteri, sisa-sisa Royal Australian Air Force (RAAF) Beaufort bomber A9-211 ditemukan di Baining Mountains, Pulau New Britain, Papua Nugini. Penemuan ini menutup bab panjang ketidakpastian dan membuka peluang penafsiran baru tentang operasi udara di Pasifik selama Perang Dunia II sekaligus memberi jawaban yang lama ditunggu keluarga para awak pesawat. Defence
Sejarah Singkat Beaufort A9-211 dan Misi 14 Desember 1943
Pada malam 14 Desember 1943, Beaufort bomber A9-211 dari No. 100 Squadron RAAF berangkat dalam misi tempur malam hari yang menargetkan posisi musuh di Rabaul, salah satu basis strategis Jepang di kawasan Pasifik. Armada Beaufort pada masa itu dipakai dalam operasi tempur, patroli, dan serangan rudal terhadap target musuh dalam kondisi perang yang kacau. Defence
Cuaca malam itu buruk, dengan laporan dari awak lain yang terlibat dalam misi menunjukkan kondisi ekstrem di udara. Ketika A9-211 tidak kembali ke pangkalan seperti seharusnya, pesawat itu dinyatakan hilang dalam aksi. Pencarian pasca-aksi oleh RAAF di Papua Nugini setelah perang berakhir tidak pernah menemukan bangkai atau jejak pasti dari pesawat dan awaknya, sehingga keberadaan mereka tetap menjadi misteri selama lebih dari delapan dekade. Defence
Awak pesawat itu terdiri dari empat Flight Sergeant:
- John Eardley Kenny (Pilot)
- Arthur John Davies (Navigator)
- Thomas Burrowes (Wireless Operator/Air Gunner)
- Murray Fairbairn (Wireless Operator/Air Gunner) Defence
Dari Foto Lama ke Penemuan Nyata
Perjalanan panjang untuk menemukan bukti fisik tentang keberadaan A9-211 berawal dengan sebuah foto tua yang beredar pada 2021. Foto itu menunjukkan serpihan bangkai pesawat yang diyakini berasal dari Perang Dunia II di Baining Mountains. Foto ini diserahkan kepada Historical Unrecovered War Casualties – Air Force (HUWC-AF), sebuah tim yang fokus pada pencarian pesawat dan awak yang hilang. Analisis foto menunjukkan kemungkinan kuat bahwa itu merupakan bagian dari pesawat Beaufort. Defence
Setelah beberapa tahun penelusuran, pada Oktober 2025, tim investigasi dari RAAF, bersama spesialis dan perwakilan dari National Museum and Art Gallery of PNG, turun langsung ke lokasi yang terpencil tersebut. Akses ke lokasi hanya bisa dilakukan dengan dukungan ekspedisi setempat dan bantuan penduduk desa karena medan yang ekstrem dan geografi pegunungan yang sulit dijangkau. Defence
Pengetahuan lapangan dan bukti fisik akhirnya memecahkan misteri: mereka menemukan plat pabrikan pesawat di lokasi yang mengkonfirmasi bahwa bangkai itu benar-benar Beaufort A9-211. Itu berarti bangkai pesawat yang selama ini jadi legenda perang dan sumber duka bagi keluarga kini bisa diidentifikasi secara resmi. Defence
Apa yang Ditemukan di Lokasi
Tim pencari tidak hanya menemukan satu potong logam kecil. Serpihan bangkai tersebar di area seluas lebih dari 200 meter persegi di lereng tajam pegunungan, diselimuti vegetasi tropis yang padat. Jejak-jejak artefak yang ditemukan di lokasi termasuk:
- Kontrol pesawat dan instrumen cockpit
- Komponen persenjataan termasuk amunisi senapan mesin
- Bagian dari harness parasut
- Potongan plat identifikasi pesawat Defence
Temuan itu tidak hanya menunjukkan keberadaan pesawat, tetapi juga memberi gambaran tentang kondisi terakhir pesawat sebelum menabrak lereng gunung. Serpihan yang tersebar menunjukkan dampak besar dari kecelakaan itu. Defence
Menutup Misteri, Menggugah Emosi
Penemuan ini bukan sekadar soal menyelesaikan teka-teki sejarah. Bagi keluarga para awak, ini adalah momen emosional yang panjang ditunggu. Selama bertahun-tahun, banyak anggota keluarga hidup dengan pertanyaan tanpa jawaban: apa yang terjadi pada John, Arthur, Thomas, dan Murray? Apa nasib mereka setelah mereka terakhir terlihat lepas landas pada malam itu? ABC
Beberapa keluarga menerima kabar ini dengan campuran perasaan: lega karena akhirnya ada jawaban, tetapi juga sedih atas tragedi nyata yang mengakhiri kehidupan anak, saudara, dan ayah mereka. Dalam beberapa kasus, beberapa fragmen yang ditemukan termasuk kemungkinan potongan tulang yang sekarang sedang dianalisis lebih lanjut untuk memastikan apakah itu berasal dari awak pesawat. ABC
Bagi keturunan seperti keluarga Burrowes, penemuan ini membuka kembali ingatan tentang masa lalu yang penuh luka dan kerinduan, serta memberi kesempatan untuk memulangkan sisa-sisa secara layak jika hasil forensik mengonfirmasi identitasnya. ABC
Perspektif Militer dan Sejarah Perang
Temuan ini bukan hanya menarik dari sisi kemanusiaan, tetapi juga penting secara historis dan militer. Beaufort bomber adalah bagian integral dari strategi serangan RAAF di teater Pasifik selama Perang Dunia II, terutama dalam operasi terhadap basis musuh yang kuat seperti Rabaul. Rabaul sendiri adalah salah satu lokasi paling diperebutkan selama perang karena posisinya yang strategis sebagai markas besar Jepang di kawasan. Defence
Kesulitan navigasi, kondisi cuaca yang tidak bersahabat, serta medan yang sulit menjadi tantangan besar bagi pilot dan kru pesawat pada masa itu. Penemuan A9-211 membantu memperjelas sejarah operasi udara yang sering kali hanya diketahui dari catatan tertulis atau laporan misi yang tersisa dari pihak sekutu. Defence
Kerja Sama Internasional dan Komunitas Lokal
Keberhasilan pencarian ini tidak terlepas dari kerja sama antara berbagai pihak. Tidak hanya RAAF dan HUWC-AF yang memainkan peran penting, tetapi juga dukungan dari pemerintah Papua Nugini, National Museum and Art Gallery of PNG, perusahaan ekspedisi lokal, dan komunitas desa di sekitar lokasi. Tanpa kerja sama ini, akses ke lokasi yang sulit tersebut hampir mustahil dilakukan. Defence
Dukungan dari komunitas lokal menjadi kunci tidak hanya dalam hal logistik, tetapi juga dalam melestarikan situs ini dengan penuh hormat sesuai dengan nilai budaya setempat. Penduduk desa sering terlibat dalam menandai lokasi dan membantu tim untuk navigasi di medan yang berat. Defence
Rencana ke Depan dan Komemorasi
Setelah identifikasi bangkai pesawat selesai, RAAF dan pihak berwenang lainnya mulai menghubungi keluarga anggota kru untuk memberi tahu mereka tentang hasil penemuan dan membahas rencana komemorasi yang layak. Diskusi awal mencakup kemungkinan upacara penghormatan, pembuatan monumen atau penempatan sisa-sisa di lokasi yang lebih layak, serta kegiatan lain untuk menghormati jasa mereka. Defence
Untuk negara Australia secara keseluruhan, temuan ini menjadi pengingat akan pengorbanan besar yang dilakukan oleh generasi sebelumnya dalam mempertahankan kebebasan dan keamanan, khususnya di kawasan Pasifik yang menjadi saksi utama salah satu konflik terbesar dalam sejarah manusia. Defence
Menghubungkan Masa Kini dengan Masa Lalu
Penemuan Beaufort A9-211 menunjukan bahwa sejarah tidak pernah benar-benar hilang. Ia terkubur, terlupakan, atau terabaikan sampai seseorang menemukan jalan untuk menguaknya kembali. Dalam kasus ini, foto lama, kerja keras tim pencari, serta dukungan komunitas lokal menjadi kombinasi yang membuka kembali cerita yang selama ini hanya tersisa sebagai catatan di buku sejarah. Defence
Lebih dari sekadar serpihan logam di puncak pegunungan, A9-211 adalah saksi bisu perjalanan waktu, ingatan kolektif tentang Perang Dunia II, dan penghormatan terhadap keberanian mereka yang terlibat dalam misi berbahaya. Temuan ini memperkaya catatan sejarah, sekaligus menyampaikan pesan universal tentang kebutuhan manusia akan penutupan, penghormatan, dan pengakuan terhadap mereka yang telah berkorban. Defence
Kesimpulan
Penemuan bangkai RAAF Beaufort A9-211 di pegunungan Papua Nugini adalah peristiwa yang menyatukan historiografi, emosi keluarga, dan penghormatan nasional dalam satu narasi besar. Setelah lebih dari delapan dekade misteri, sisa-sisa pesawat dan bukti identifikasi akhirnya memberi jawaban bagi banyak pihak yang menunggu puluhan tahun. Temuan ini bukan hanya soal menyelesaikan teka-teki, tetapi juga tentang menghormati jasa mereka yang telah memberikan hidup untuk tugas yang mereka jalankan. Defence

Tinggalkan Balasan