Kalau kamu pernah mikir “sejarah” itu identik dengan museum ber-AC, etalase kaca, dan tulisan kecil yang bikin mata cepat lelah, Liangkabori di Pulau Muna bakal mematahkan stereotip itu mentah-mentah. Di sini, sejarah tidak dipajang—ia masih menempel di dinding batu, bernapas bareng udara karst, dan terus bernegosiasi dengan waktu.
Kawasan karst Liangkabori di Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara belakangan kembali jadi sorotan karena diposisikan sebagai salah satu situs prasejarah paling penting di Indonesia bagian timur. Narasinya sederhana tapi besar: ratusan lukisan cadas, puluhan gua/ceruk, dan jejak budaya yang tidak berhenti di prasejarah saja, karena di kawasan yang sama ada juga peninggalan fase sejarah kerajaan Muna. Dalam bahasa paling gampang: Liangkabori itu “timeline” panjang yang kebetulan tidak diunggah di internet, tetapi diukir di batu. tegas.co
Artikel ini mengajak kamu melihat Liangkabori bukan sekadar destinasi “wisata gua”, melainkan arsip hidup tentang manusia Nusantara: bagaimana mereka bergerak, berburu, bertani, berlayar, bertarung, berdoa, hingga membangun identitas.
Apa Itu Liangkabori, dan Kenapa Disebut “Gua Bertulis”?
Liangkabori sering juga dikenal sebagai “Gua Bertulis”. Dalam konteks setempat, istilah ini merujuk pada gua yang dindingnya dipenuhi gambar, coretan, simbol, dan adegan—semacam “tulisan” visual dari masa lalu. Sumber-sumber populer dan dokumentasi budaya menyebut bahwa Kabori berkaitan dengan makna “gambar/lukisan” dalam bahasa Muna, memperkuat alasan mengapa kawasan ini identik dengan seni cadas. Google Arts & Culture
Secara administratif, situs Liang Kobori dan Metanduno berada di Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara, dan telah lama menjadi lokasi penelitian kepurbakalaan sekaligus tujuan wisata edukasi. Wikipedia
Yang membuat Liangkabori “nendang” bukan cuma karena ia ada, tetapi karena skalanya. Inventarisasi terbaru yang diberitakan menunjukkan sedikitnya 43 hingga 48 gua dan ceruk dengan lukisan prasejarah di kawasan ini (hingga pertengahan 2025), meningkat dari data sebelumnya sekitar 38 gua/ceruk. tegas.co
Ratusan Lukisan Cadas: Bukan Sekadar “Gambar”, Tapi Bahasa Sosial
Ada kecenderungan orang modern menilai seni prasejarah dengan standar “bagus atau tidak”, “mirip atau tidak”, “rapi atau tidak”. Padahal nilai utamanya justru ada pada fungsi: seni cadas adalah cara komunitas prasejarah menyimpan pengetahuan dan memproduksi makna.
Di Liangkabori, motifnya beragam: figur manusia, hewan, perahu, cap tangan, simbol geometris dan abstrak. Pigmen yang dipakai dominan warna merah, hitam, dan cokelat, berasal dari mineral lokal. tegas.co
Dalam pemberitaan, peneliti mencatat lebih dari 350 panel lukisan yang tersebar di sekitar 40 gua, angka yang memberi gambaran bahwa ini bukan “coretan random”, tetapi tradisi visual yang berulang, berlangsung lama, dan melibatkan komunitas. tegas.co
Google Arts & Culture (melalui organisasi riset arkeologi BRIN) juga menekankan bahwa seni cadas Muna didominasi pigmen cokelat dan digunakan untuk menggambar manusia, hewan, perahu, serta motif non-figuratif—yang menariknya sering memuat adegan aktivitas sosial-ekonomi, termasuk berburu, domestikasi, pelayaran, hingga konflik. Google Arts & Culture
Jadi, yang kamu lihat di dinding gua itu bukan “galeri” dalam pengertian modern—melainkan semacam “database” budaya.
Dua Bintang Utama: Gua Liangkabori dan Liang Metandono
Walau kawasan Liangkabori terdiri dari banyak gua/ceruk, dua situs sering disebut paling menonjol:
- Gua Liangkabori sebagai ikon utama, karena mural prasejarahnya kerap dibaca sebagai gambaran kehidupan sosial, relasi manusia dengan alam, dan teknologi transportasi air melalui motif perahu. tegas.co
- Liang Metandono (atau Metanduno/Metandono dalam berbagai penulisan), yang disebut memiliki intensitas lukisan sangat tinggi dan memberi gambaran lebih detail tentang pola hidup agraris dan pastoral. tegas.co
Dalam narasi populer di Wikipedia, Metanduno juga dikaitkan dengan motif hewan bertanduk (tandu) dan memori lokal tentang aktivitas manusia prasejarah. Wikipedia
Intinya: kalau Liangkabori adalah “headline”, Metandono sering jadi “deep dive”.
Motif Perahu: Petunjuk Penting tentang Identitas Maritim Nusantara
Salah satu detail yang paling menarik dari seni cadas Muna adalah motif perahu. Ini bukan sekadar ornamen, melainkan sinyal bahwa komunitas yang meninggalkan jejak di Liangkabori punya kedekatan dengan teknologi air dan mobilitas. Pemberitaan tegas menyebut perahu sebagai salah satu motif penting, dan dokumentasi BRIN lewat Arts & Culture menempatkan “seafaring” sebagai salah satu adegan sosial-ekonomi yang tercermin di gambar. tegas.co
Di Nusantara, “perahu” selalu lebih dari alat transportasi: ia adalah simbol jaringan, pertukaran, migrasi, dan cara manusia membaca ruang. Ketika motif perahu muncul dalam konteks prasejarah, itu seperti kamu menemukan “jejak GPS” yang super tua—tanpa satelit, tanpa peta modern, tapi tetap jelas: mereka bergerak, mereka menyeberang, mereka terkoneksi.
Dan ini penting karena sering ada bias dalam pembicaraan prasejarah Indonesia: seolah pusatnya hanya di satu-dua tempat yang sudah mainstream. Liangkabori mengingatkan bahwa Indonesia timur dan kawasan Wallacea punya cerita yang sama padatnya.
Cap Tangan dan Simbol Abstrak: Ketika Manusia Ingin “Hadir” di Batu
Motif cap tangan pada seni cadas di berbagai wilayah biasanya dibaca sebagai penanda kehadiran—semacam “aku pernah ada di sini”, tapi dengan lapisan makna ritual. Liangkabori juga menyimpan motif cap tangan dan simbol-simbol abstrak/geometris yang diduga berkaitan dengan praktik simbolik tertentu, termasuk komunikasi dengan leluhur atau representasi kosmologi lokal. tegas.co
Poinnya begini: bahkan kalau kita tidak bisa menerjemahkan simbol itu secara presisi, kita bisa melihat satu hal yang konsisten—masyarakat prasejarah tidak “kosong makna”. Mereka punya sistem representasi, punya cara mengikat komunitas, dan punya kebutuhan untuk menaruh ide di medium yang tahan lama.
Batu itu pilihan yang tidak main-main.
Bukan Cuma Prasejarah: Ada Jejak Kerajaan dan Identitas Politik
Salah satu hal yang bikin Liangkabori terasa “berlapis” adalah keberlanjutan sejarahnya. Pemberitaan menyebut bahwa dalam kawasan yang sama ditemukan juga kompleks makam raja-raja Muna, termasuk Makam Raja Muna II Sugi Patola, serta struktur benteng pertahanan. Itu membuat Liangkabori bukan sekadar situs “zaman dulu banget”, tetapi lanskap budaya yang dipakai ulang dari masa ke masa. tegas.co
Bagi antropologi, ini penting karena menunjukkan kesinambungan identitas. Kadang kita menganggap prasejarah itu putus total dari sejarah kerajaan. Di Liangkabori, keduanya hadir dalam satu ruang, seperti dua bab berbeda tapi berbagi halaman yang sama.
Dari Penelitian ke Pengakuan: Cagar Budaya dan Festival
Perhatian pemerintah terhadap Liangkabori disebut meningkat. Pada Juli 2025, Gua Liangkabori diberitakan resmi ditetapkan sebagai Cagar Budaya tingkat Provinsi Sulawesi Tenggara. tegas.co
Selain itu, ada dorongan pengembangan kawasan karst Muna sebagai bagian dari wacana Geopark Nasional, untuk mengintegrasikan pelestarian geologi dan warisan budaya. tegas.co
Di level publik, promosi dan edukasi juga dibawa lewat Festival Liangkabori 2025 (11–18 Juli 2025) dengan tema pelestarian budaya leluhur, sekaligus menampilkan kegiatan budaya seperti lomba Kaghati Kolope, layang-layang tradisional khas Muna. tegas.co
Ini menarik karena narasi situs prasejarah sering jatuh ke dua ekstrem: “suci, jangan disentuh sama sekali” atau “dibikin wisata massal”. Festival dan program edukasi punya peluang jadi jalan tengah—asal tidak mengorbankan situsnya.
Cara Berkunjung yang Lebih Manusiawi: Waktu Terbaik dan Etika di Lokasi
Kalau kamu melihat Liangkabori sebagai destinasi, platform resmi pariwisata desa (Jadesta Kemenparekraf) menyarankan waktu kunjungan terbaik: musim kering (Mei–September), menghindari musim hujan (Oktober–April) karena jalur bisa licin, serta mempertimbangkan waktu kunjungan (pagi lebih sejuk, siang membantu pencahayaan untuk melihat lukisan). Mereka juga menekankan pentingnya pendamping/pemandu karena jalur bisa terjal dan berbatu. Jadesta
Tapi ada bagian yang lebih penting dari “tips wisata”: etika.
Karena di situs seni cadas, jarak antara “datang sebagai pengunjung” dan “jadi pelaku kerusakan” itu tipis. Bahkan sentuhan tangan, kelembapan napas di area tertentu, atau kebiasaan “mengusap dinding biar keliatan” bisa mempercepat degradasi. Dokumentasi BRIN menyebut degradasi bisa terjadi karena kondisi tropis lembap yang memicu pertumbuhan organisme seperti alga yang menutupi gambar. Google Arts & Culture
Pemberitaan juga menyoroti ancaman vandalitas akibat pengunjung yang tidak terkontrol serta keterbatasan pemandu/pengawasan lapangan. tegas.co
Dengan kata lain: kalau kamu ke sana, jangan cuma bawa kamera. Bawa kesadaran.
Liangkabori dalam Peta Besar Seni Cadas Indonesia
Indonesia punya reputasi global soal seni cadas—terutama Sulawesi dan Kalimantan yang sering dibahas dalam riset-riset besar tentang seni figuratif purba. Tapi Liangkabori menawarkan konteks berbeda: ia memperkaya pemahaman tentang sebaran, variasi motif, dan dinamika budaya di Nusantara timur, khususnya di Muna.
Yang paling “Gen Z friendly” untuk dipahami begini: kalau kita menganggap Nusantara sebagai feed yang isinya banyak “akun”, Liangkabori itu salah satu akun penting yang selama ini tidak cukup sering masuk halaman eksplor. Padahal kontennya padat: ada maritim, ada domestikasi, ada konflik, ada simbolisme, ada kesinambungan budaya.
Dan itu bukan sekadar kebanggaan daerah—itu aset pengetahuan.
Tantangan Pelestarian: Antara Populer dan Rentan
Setiap kali sebuah situs prasejarah makin dikenal, ada paradoks yang ikut naik: peluang pelestarian meningkat karena perhatian publik, tapi risiko kerusakan juga meningkat karena arus pengunjung.
Di Liangkabori, tantangannya jelas:
- vandalitas dan perilaku pengunjung,
- keterbatasan pengawasan,
- kebutuhan kolaborasi komunitas lokal sebagai mitra konservasi,
- serta dorongan pariwisata budaya yang tidak merusak situs. tegas.co
Kolaborasi dengan warga lokal penting bukan sebagai formalitas, tapi sebagai strategi paling realistis. Karena merekalah yang paling dekat dengan situs, paling sering berhadapan dengan dampak wisata, dan paling punya insentif jangka panjang—asal sistemnya adil.
Kenapa Kamu Perlu Peduli?
Karena Liangkabori bukan cuma cerita tentang “manusia purba”, tapi tentang kita—cara kita membangun identitas sebagai Nusantara.
Di dinding gua, kamu bisa melihat bahwa manusia sejak dulu:
- ingin merekam pengalaman,
- ingin menjelaskan dunia,
- ingin terhubung lewat simbol,
- dan ingin meninggalkan jejak yang melampaui umur tubuh.
Kita sering merasa modern karena punya teknologi. Tapi dalam hal kebutuhan paling manusiawi—membuat makna, membangun cerita, menandai keberadaan—kita tidak jauh beda dari orang yang pernah menumbuk pigmen, menempelkan telapak tangan ke batu, lalu meniup warna supaya jejaknya tinggal lebih lama dari hidupnya.
Penutup: Liangkabori adalah “Museum” yang Tidak Punya Pintu
Liangkabori Muna layak disebut galeri prasejarah terbuka karena ia benar-benar tidak membutuhkan gedung untuk jadi penting. Ia hanya butuh dua hal: pelestarian serius dan publik yang dewasa.
Situs ini menyimpan ratusan lukisan cadas, puluhan gua/ceruk, serta kesinambungan sejarah dari prasejarah hingga jejak kerajaan. Ia sudah diakui sebagai cagar budaya tingkat provinsi, dipromosikan lewat festival, dan didorong masuk dalam narasi geopark. tegas.co
Tinggal pertanyaannya sekarang: kita mau memperlakukan Liangkabori sebagai warisan, atau cuma sebagai latar foto?
Kalau jawabannya warisan, maka cara paling keren untuk “mengunjungi” Liangkabori adalah pulang dengan cerita—tanpa meninggalkan bekas.

Tinggalkan Balasan