Tahun ini menjadi tonggak bersejarah bagi Nahdlatul Ulama, organisasi Islam terbesar di Indonesia yang genap berusia 100 tahun. Seabad bukan sekadar angka. Ia adalah penanda perjalanan panjang sebuah gerakan keagamaan, sosial, dan kebangsaan yang tumbuh bersama denyut Indonesia itu sendiri. Dari pesantren-pesantren kecil di desa hingga panggung global, NU telah melewati berbagai fase sejarah dengan satu benang merah: menjaga Islam yang membumi, inklusif, dan relevan dengan realitas zaman.

Di tengah dunia yang terus berubah cepat, perayaan satu abad NU menjadi momentum refleksi. Apa arti NU bagi Indonesia hari ini? Bagaimana peran organisasi ini dalam membentuk wajah Islam Nusantara? Dan ke mana arah NU melangkah setelah seratus tahun merawat umat dan bangsa?


Lahir dari Kegelisahan Zaman

Nahdlatul Ulama lahir pada 1926, di tengah kondisi sosial-politik yang penuh tekanan. Indonesia masih berada di bawah penjajahan, sementara umat Islam menghadapi tantangan besar: ketimpangan ekonomi, krisis pendidikan, dan ancaman marginalisasi tradisi keagamaan lokal. Para ulama pesantren membaca situasi ini bukan dengan reaksi emosional, melainkan dengan strategi jangka panjang.

NU didirikan sebagai wadah konsolidasi ulama tradisional untuk menjaga ajaran Islam Ahlussunnah wal Jamaah sekaligus mempertahankan praktik keagamaan yang telah berakar kuat di Nusantara. Sejak awal, NU tidak memisahkan agama dari realitas sosial. Islam dipahami bukan hanya sebagai ritual, tetapi sebagai panduan hidup yang menyentuh aspek budaya, ekonomi, dan kemasyarakatan.


Pesantren sebagai Jantung Gerakan

Tidak bisa membicarakan NU tanpa menyebut pesantren. Lembaga pendidikan ini menjadi basis utama lahirnya kader, pemikir, dan pemimpin NU dari generasi ke generasi. Pesantren bukan sekadar tempat belajar kitab, tetapi ruang pembentukan karakter, etika, dan kepekaan sosial.

Selama satu abad, pesantren NU berperan besar dalam mencerdaskan masyarakat di akar rumput, jauh sebelum negara memiliki sistem pendidikan formal yang merata. Di sinilah NU membangun kekuatannya: tidak elitis, tidak berjarak, dan selalu dekat dengan kehidupan masyarakat sehari-hari.

Pesantren juga menjadi benteng nilai moderasi. Di tengah gelombang ideologi ekstrem, tradisi pesantren NU menanamkan sikap tawasuth, tasamuh, dan tawazun, yang hari ini dikenal luas sebagai prinsip Islam moderat.


NU dan Perjuangan Kebangsaan

Peran NU dalam sejarah Indonesia tidak bisa dilepaskan dari perjuangan kemerdekaan. Salah satu momen paling monumental adalah Resolusi Jihad 1945, yang menegaskan kewajiban membela tanah air dari penjajah. Seruan ini tidak hanya berdampak secara religius, tetapi juga politis dan militer.

Banyak kiai, santri, dan warga NU terlibat langsung dalam perlawanan fisik maupun diplomasi. Bagi NU, cinta tanah air bukan slogan kosong, melainkan bagian dari iman. Prinsip inilah yang membuat NU tetap konsisten berada di garis depan dalam menjaga keutuhan NKRI, dari masa revolusi hingga era reformasi.


Islam Nusantara: Identitas dan Jalan Tengah

Dalam perjalanan satu abad, NU dikenal sebagai penjaga Islam Nusantara. Konsep ini sering disalahpahami, seolah-olah Islam Nusantara adalah agama baru. Padahal, yang dimaksud adalah cara berislam yang menghargai budaya lokal tanpa mengorbankan prinsip dasar ajaran Islam.

Islam Nusantara menegaskan bahwa agama tidak harus berbenturan dengan tradisi. Wayang, selametan, tahlilan, dan berbagai praktik lokal menjadi sarana dakwah yang efektif karena dekat dengan masyarakat. Di sinilah kekuatan NU: mampu menjembatani nilai universal Islam dengan konteks lokal Indonesia.


Dinamika NU di Era Politik

Selama satu abad, NU tidak pernah benar-benar steril dari politik. Namun, relasi NU dengan politik selalu bersifat dinamis dan kontekstual. Ada masa ketika NU terjun langsung ke politik praktis, ada pula fase kembali ke khittah sebagai organisasi sosial-keagamaan.

Pilihan-pilihan ini sering menuai pro dan kontra. Namun satu hal yang konsisten adalah sikap NU yang pragmatis dalam arti positif: membaca realitas, menimbang maslahat, dan menghindari konflik ideologis yang merusak persatuan.

Di usia 100 tahun, NU kembali menegaskan posisinya sebagai penjaga moral publik, bukan sekadar pemain politik. Sikap ini menjadi penting di tengah polarisasi yang semakin tajam di ruang publik.


NU dan Tantangan Global

Memasuki abad kedua, NU tidak lagi hanya berbicara dalam konteks nasional. Isu-isu global seperti radikalisme, Islamofobia, krisis kemanusiaan, dan konflik identitas menjadi medan baru perjuangan. NU hadir membawa narasi Islam yang damai dan solutif.

Melalui jaringan internasional, NU aktif mempromosikan nilai-nilai moderasi dan dialog lintas agama. Kehadiran NU di forum global menunjukkan bahwa Islam Indonesia memiliki kontribusi nyata dalam peradaban dunia, bukan sekadar penonton.


Generasi Muda dan Transformasi NU

Salah satu tantangan terbesar NU di usia satu abad adalah regenerasi. Dunia digital mengubah cara anak muda belajar, berinteraksi, dan membentuk identitas. NU menyadari bahwa pendekatan lama tidak selalu efektif untuk menjangkau generasi baru.

Karena itu, NU mulai bertransformasi. Media digital, konten kreatif, dan diskursus publik menjadi ruang baru dakwah. Anak muda NU hadir dengan gaya segar, tanpa meninggalkan akar tradisi. Mereka berbicara tentang Islam, kebangsaan, dan kemanusiaan dengan bahasa yang relevan dengan zaman.

Transformasi ini bukan tanpa resistensi. Namun sejarah NU menunjukkan bahwa adaptasi selalu menjadi kunci bertahan hidup organisasi ini.


NU sebagai Penyangga Moderasi di Indonesia

Di tengah meningkatnya tensi ideologis, NU memainkan peran penting sebagai penyangga moderasi. Ketika wacana keagamaan kerap dipolitisasi, NU hadir menawarkan kesejukan. Ketika perbedaan dijadikan alat konflik, NU mendorong dialog dan musyawarah.

Peran ini semakin penting di era media sosial, di mana narasi ekstrem mudah viral. NU tidak selalu paling bising, tetapi konsisten bekerja di lapangan: pendidikan, dakwah, dan pelayanan sosial.


Refleksi Seabad: Apa yang Bisa Dipelajari

Seratus tahun perjalanan NU memberikan banyak pelajaran. Pertama, kekuatan organisasi terletak pada akar sosialnya. Kedua, tradisi bukan penghambat kemajuan, justru fondasi untuk beradaptasi. Ketiga, keberagaman bisa dirawat tanpa harus diseragamkan.

NU tidak sempurna. Ia mengalami konflik internal, dinamika kepemimpinan, dan tantangan zaman. Namun justru di situlah relevansinya: NU adalah cermin Indonesia, dengan segala kompleksitasnya.


Menatap Abad Kedua NU

Memasuki abad kedua, NU menghadapi tantangan yang berbeda dari masa pendiriannya. Globalisasi, krisis iklim, disrupsi teknologi, dan perubahan demografi menuntut respons baru. Namun dengan pengalaman satu abad, NU memiliki modal sosial dan kultural yang kuat.

Pertanyaannya bukan apakah NU mampu bertahan, tetapi bagaimana NU terus relevan. Jawabannya terletak pada kemampuannya menjaga keseimbangan antara tradisi dan inovasi, antara nilai lokal dan tantangan global.


Penutup: NU dan Masa Depan Indonesia

Nahdlatul Ulama yang genap berusia 100 tahun bukan hanya milik warganya, tetapi bagian tak terpisahkan dari sejarah Indonesia. Dari desa hingga kota, dari pesantren hingga ruang digital, NU terus hadir merawat nilai, menjaga persatuan, dan memperjuangkan kemanusiaan.

Di tengah dunia yang semakin terfragmentasi, NU menawarkan satu pesan sederhana namun kuat: Islam yang damai, Indonesia yang inklusif, dan masa depan yang dibangun bersama. Seabad telah dilalui, dan perjalanan NU masih jauh dari kata selesai.