Setiap tanggal 20 Februari, dunia memperingati Hari Keadilan Sosial Sedunia atau World Day of Social Justice. Di atas kertas, peringatan ini terdengar idealis, bahkan klise. Namun jika dilihat dari realitas global hari ini—ketimpangan ekonomi yang makin lebar, akses pendidikan yang tidak merata, diskriminasi berbasis identitas, hingga ketidakadilan digital—hari ini justru terasa semakin relevan. Keadilan sosial bukan sekadar jargon PBB atau slogan aktivisme, melainkan persoalan nyata yang memengaruhi kehidupan miliaran orang.
Artikel ini membahas secara mendalam sejarah lahirnya Hari Keadilan Sosial Sedunia, konteks global yang melatarbelakanginya, tantangan keadilan sosial di era modern, hingga bagaimana generasi muda memainkan peran penting dalam mendorong perubahan. Ditulis dengan sudut pandang jurnalis Gen Z, artikel ini mengajak pembaca untuk melihat keadilan sosial bukan sebagai isu elitis, tetapi sebagai sesuatu yang dekat dengan keseharian.
Sejarah Lahirnya Hari Keadilan Sosial Sedunia
Hari Keadilan Sosial Sedunia ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui resolusi Majelis Umum PBB pada tahun 2007. Penetapan ini tidak muncul secara tiba-tiba. Akar sejarahnya bisa ditarik ke World Summit for Social Development yang digelar di Kopenhagen pada tahun 1995. Dalam pertemuan tersebut, para pemimpin dunia sepakat bahwa pembangunan ekonomi tidak akan bermakna tanpa keadilan sosial.
Deklarasi Kopenhagen menekankan tiga pilar utama: pengentasan kemiskinan, penciptaan lapangan kerja yang produktif, dan integrasi sosial. Ketiganya menjadi fondasi konsep keadilan sosial modern yang digunakan hingga hari ini. PBB kemudian melihat perlunya satu hari khusus untuk mengingatkan negara-negara anggota bahwa pertumbuhan ekonomi semata tidak cukup jika hasilnya hanya dinikmati oleh segelintir orang.
Tanggal 20 Februari dipilih sebagai simbol komitmen global untuk memastikan bahwa pembangunan bersifat inklusif, adil, dan berkelanjutan. Sejak itu, Hari Keadilan Sosial Sedunia diperingati setiap tahun dengan tema berbeda, menyesuaikan isu global yang paling mendesak.
Apa Itu Keadilan Sosial dan Mengapa Penting
Keadilan sosial sering disalahpahami sebagai konsep abstrak yang hanya relevan di ruang akademik atau diskusi kebijakan. Padahal, maknanya sangat konkret. Keadilan sosial berbicara tentang kesempatan yang setara, perlindungan hak asasi manusia, dan distribusi sumber daya yang adil.
Dalam konteks sehari-hari, keadilan sosial berarti:
- Anak dari keluarga miskin memiliki peluang pendidikan yang sama dengan anak dari keluarga kaya.
- Pekerja mendapatkan upah layak dan perlindungan sosial.
- Perempuan, penyandang disabilitas, dan kelompok minoritas tidak didiskriminasi dalam akses pekerjaan atau layanan publik.
- Masyarakat memiliki akses yang adil terhadap teknologi dan informasi.
Tanpa keadilan sosial, ketimpangan akan terus melebar dan memicu konflik sosial. Sejarah telah berulang kali menunjukkan bahwa ketidakadilan adalah bahan bakar utama bagi kerusuhan, revolusi, dan instabilitas politik.
Ketimpangan Global: Masalah Lama yang Belum Selesai
Salah satu alasan utama mengapa Hari Keadilan Sosial Sedunia tetap relevan adalah karena ketimpangan global belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Data global menunjukkan bahwa sebagian kecil populasi dunia menguasai sebagian besar kekayaan, sementara jutaan orang masih hidup di bawah garis kemiskinan.
Di banyak negara berkembang, pertumbuhan ekonomi memang terjadi, tetapi manfaatnya tidak dirasakan secara merata. Kota-kota besar tumbuh pesat dengan gedung pencakar langit dan pusat perbelanjaan mewah, sementara wilayah pedesaan tertinggal dalam hal infrastruktur, pendidikan, dan layanan kesehatan.
Bahkan di negara maju, ketimpangan juga nyata. Akses perumahan yang layak, biaya pendidikan tinggi yang mahal, serta sistem kerja kontrak yang tidak stabil membuat banyak generasi muda merasa terjebak dalam siklus ketidakpastian ekonomi.
Keadilan Sosial di Era Digital
Masuknya dunia ke era digital menghadirkan paradoks baru dalam keadilan sosial. Di satu sisi, teknologi membuka peluang besar untuk pendidikan, pekerjaan, dan partisipasi sosial. Di sisi lain, muncul kesenjangan digital yang memperdalam ketidakadilan.
Akses internet yang tidak merata membuat sebagian masyarakat tertinggal dalam ekonomi digital. Anak-anak di daerah terpencil kesulitan mengikuti pembelajaran daring, sementara perusahaan berbasis teknologi terus berkembang pesat di pusat-pusat urban.
Selain itu, algoritma dan kecerdasan buatan juga menimbulkan pertanyaan etis. Tanpa regulasi yang adil, teknologi bisa memperkuat bias sosial yang sudah ada, mulai dari diskriminasi dalam perekrutan kerja hingga pengawasan digital yang melanggar privasi.
Hari Keadilan Sosial Sedunia kini tidak bisa dilepaskan dari isu keadilan digital. Pertanyaannya bukan lagi apakah teknologi adil, tetapi siapa yang diuntungkan dan siapa yang tertinggal.
Dunia Kerja dan Keadilan Sosial
Isu ketenagakerjaan menjadi salah satu fokus utama dalam peringatan Hari Keadilan Sosial Sedunia. Pekerjaan layak bukan hanya soal memiliki pekerjaan, tetapi juga tentang upah yang adil, jam kerja manusiawi, dan jaminan sosial.
Fenomena gig economy menjadi contoh nyata dilema keadilan sosial modern. Banyak anak muda bekerja sebagai pekerja lepas digital, pengemudi daring, atau kreator konten tanpa perlindungan sosial yang memadai. Fleksibilitas kerja memang menarik, tetapi sering kali dibayar dengan ketidakpastian pendapatan dan minimnya perlindungan hukum.
Keadilan sosial menuntut adanya sistem yang melindungi pekerja di tengah perubahan dunia kerja. Tanpa itu, kemajuan ekonomi justru menciptakan bentuk baru eksploitasi.
Perspektif Gen Z: Antara Idealisme dan Realitas
Generasi Z tumbuh di tengah krisis global yang berlapis: perubahan iklim, pandemi, konflik geopolitik, dan ketimpangan ekonomi. Tidak heran jika isu keadilan sosial menjadi salah satu perhatian utama generasi ini.
Berbeda dengan generasi sebelumnya, Gen Z memiliki akses luas ke informasi global melalui media sosial. Ketidakadilan di belahan dunia lain bisa langsung viral dan memicu solidaritas lintas negara. Namun, Gen Z juga menghadapi tantangan unik: activism fatigue. Terlalu banyak isu, terlalu sedikit solusi nyata.
Hari Keadilan Sosial Sedunia bagi Gen Z bukan hanya soal kampanye daring atau unggahan simbolis, tetapi tentang mencari cara konkret untuk mendorong perubahan. Mulai dari memilih produk yang etis, mendukung kebijakan inklusif, hingga terlibat langsung dalam komunitas lokal.
Peran Negara dan Kebijakan Publik
Keadilan sosial tidak bisa sepenuhnya diserahkan pada individu atau komunitas. Negara memegang peran kunci melalui kebijakan publik yang adil dan berpihak pada kelompok rentan.
Sistem pajak progresif, jaminan sosial, pendidikan gratis atau terjangkau, serta layanan kesehatan universal adalah contoh kebijakan yang berakar pada prinsip keadilan sosial. Namun, implementasinya sering kali terhambat oleh kepentingan politik dan ekonomi.
Hari Keadilan Sosial Sedunia menjadi momen refleksi bagi pemerintah: apakah kebijakan yang dibuat benar-benar mengurangi ketimpangan, atau justru memperlebar jurang sosial.
Keadilan Sosial dan Budaya
Keadilan sosial juga berkaitan erat dengan pengakuan budaya dan identitas. Di banyak negara, kelompok adat dan minoritas masih berjuang untuk mendapatkan hak atas tanah, bahasa, dan tradisi mereka.
Globalisasi sering kali membawa standar budaya dominan yang menggeser nilai-nilai lokal. Tanpa pendekatan yang adil, pembangunan bisa berubah menjadi bentuk baru kolonialisme budaya. Keadilan sosial menuntut penghormatan terhadap keberagaman dan hak kolektif suatu komunitas.
Mengapa Hari Keadilan Sosial Sedunia Masih Relevan
Di tengah dunia yang semakin kompleks, Hari Keadilan Sosial Sedunia bukan sekadar pengingat simbolis. Ia menjadi cermin untuk melihat sejauh mana dunia telah bergerak menuju keadilan yang sesungguhnya.
Ketimpangan yang terus terjadi menunjukkan bahwa perjuangan ini belum selesai. Justru, tantangan baru seperti perubahan iklim dan transformasi digital membuat konsep keadilan sosial semakin luas dan mendesak.
Dari Peringatan ke Aksi Nyata
Peringatan Hari Keadilan Sosial Sedunia akan kehilangan makna jika hanya berhenti pada seremonial. Tantangan sebenarnya adalah bagaimana menerjemahkan nilai-nilai keadilan sosial ke dalam tindakan nyata.
Bagi individu, ini bisa dimulai dari hal sederhana: bersikap inklusif, kritis terhadap ketidakadilan, dan mendukung kebijakan yang berpihak pada kelompok rentan. Bagi negara dan institusi global, ini berarti keberanian untuk mereformasi sistem yang tidak adil.
Keadilan sosial bukan tujuan akhir yang bisa dicapai sekali lalu selesai. Ia adalah proses panjang yang membutuhkan konsistensi, empati, dan komitmen lintas generasi.
Penutup: Keadilan Sosial sebagai Agenda Masa Depan
Hari Keadilan Sosial Sedunia mengingatkan bahwa dunia tidak hanya membutuhkan pertumbuhan, tetapi juga pemerataan. Di era ketika teknologi dan ekonomi berkembang pesat, pertanyaan mendasarnya tetap sama: siapa yang diuntungkan dan siapa yang tertinggal.
Bagi generasi muda, keadilan sosial bukan sekadar warisan perjuangan masa lalu, tetapi agenda masa depan. Sebuah dunia yang adil tidak akan tercipta secara otomatis. Ia harus diperjuangkan, dirawat, dan terus dikritisi agar tidak berubah menjadi slogan kosong.
Selama ketimpangan masih ada, Hari Keadilan Sosial Sedunia akan tetap relevan. Dan selama masih ada suara yang menuntut keadilan, harapan untuk dunia yang lebih setara tidak akan pernah benar-benar padam.

Tinggalkan Balasan